Rapunzel is Real, Believe it

Rapunzel is real. You just have to believe it. Dia. Perempuan. 32 tahun. Baca komik. Bagaimana pria akan mempercayainya jika masih melakukan hal yang dilakukannya berdekade lalu. Ini sangat mustahil. Hampir tidak akan pernah terjadi untuk sesuatu yang disebutnya pernikahan. Dia menghela nafasnya panjang mengingat hal tadi. Entahlah, kebiasaan itu muncul sejak kapan, tapi yang pasti dia akan selalu membawa sesuatu untuk dibaca ketika masuk kamar mandi. Lebih tepatnya untuk poop. Tidak ada yang salah dengan itu, toh bukankah semua orang hamper melakukannya? Pikirnya santai. 

Suatu ketika pernah hal buruk terjadi. Akibat kecerobohannya, gadget yang dia bawa jatuh ke dalam bak mandi, terjun bebas. Tidak ada wajah panik, yang ada hanya kesigapan mengambil dan berpikir akan langsung merendamnya dengan beras.

“Habis uang bulanan gue, klo begini terus? Udah mana tinggal satu – satunya nih gadget yang gue punya”, rutuknya dalam hati. “Yaudahlah, beli lagi aja nanti klo ada budget,” pikirnya. 

Perempuan itu, entah bagaimana selalu berpikir segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, sesulit apapun masalah yang dimilikinya saat ini atau nanti. There is always a silver lining in everything, itu pikirnya. Namun, saat ini dia sedang tidak bisa berpikir seperti itu. Pikirannya kalut dan kacau, entah apa yang terjadi dengannya. Dia berusaha untuk menjadi orang waras dalam ketidakwarasan pikirannya. Dia berusaha untuk tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini. Semua berawal dari informasi itu. Informasi yang seharusnya tidak pernah dia baca bahkan tidak perlu dia ketahui.

Perempuan itu kembali dengan tulisannya. Semenjak ia mengajukan berhenti dari kantor lamanya, dia kembali menulis. Dia pernah melakukan ini, empat tahun lalu, dan cukup mendapatkan respon baik dari pembacanya untuk seorang penulis baru, meski tulisannya hanya sebuah fan fiction. 

Dulu, dia bersama teman-temannya sering menulis, dan saling memposting di laman berbagi cerita fiksi. Dia sempat mempostingnya di laman serupa dengan nama aplikasi berbeda, namun tidak seaktif di laman sebelumnya. Dia tidak akan mengira untuk mengembalikan ide menulis itu cukup butuh usaha keras. Terkadang, ide tulisan itu muncul layaknya setan. Jika tidak langsung di tulis, akan hilang begitu saja, sedangkan dia terbiasa mengetik. Percayalah, kemampuan menulis dengan alat tulis mengurang drastis mengingat dia terbiasa mengetik. 

Kaki perempuan itu mendorong beberapa barang dikamarnya yang lebih mirip dengan pecahan puing pesawat Boeing yang terhantam dengan tebing di Samudra Pasifik. Entah, apakah terdapat lebih banyak tebing atau lebih palung di dalam kamar itu. 

Kertas di kardus itu berhamburan, perempuan itu mengambilnya dan mulai membacanya. Kertas itu surat balasan dari seniornya dulu. Tak pernah tahu apa yang dipikirkannya kala itu mengirimkan surat cinta kepada seniornya yang berakhir dengan penolakan. Dia tersenyum getir, bahkan penolakan itu diterimanya sejak dari masa mudanya. Menyedihkan, pikirnya. Dia kembali menghela nafasnya, dan memori informasi itu kembali berputar di pikirannya. 

“Aku baik – baik aja, selama aku sehat, bisa kerja, aku gak ada masalah dengan kondisi ku saat ini. Makasih ya, km udh perduli bgt sm masa depan aku makanya km ngingetin aku terus buat buka hati tapi rasanya ngebagi hati ku buat orang lain lagi saat ini gak bisa.”

Kalimat itu dia terima dari temannya dalam bentuk pesan singkat. Ya, teman dari pria itu. Temannya berhubungan baik dengan pria itu dan dia diperkenalkan olehnya. Dia sempat menanyakan mengapa mengirimkan ini yang seharusnya dia tidak perlu, atau memang ini caranya agar dia berhenti mengharapakan pria itu. 

Pesan itu dikirimkan menjelang malam tahun baru. Dia berpikir mungkin waktu yang tepat untuk melupakan semuanya. Kala itu, dia berharap Tuhan bisa menghapus semua yang berhubungan dengannya dalam waktu singkat, bahkan dia berharap mengalami amnesia karena mungkin dengan itu dia dapat hidup lebih baik. Mengubur semua memori tentang pria itu, tanpa harus merasa sakit dan menitikkan air mata kembali karena penolakan. One sided love selalu perempuan alami. 

Pengalaman yang paling menyakitkan dia bahkan hampir merebut tunangan perempuan lain, beruntungnya dia kembali kepada logikanya untuk melepaskan pria itu dan meninggalkannya. Selang beberapa tahun, pria itu menikah dengan perempuan lain. Bukan tunangannya, melainkan mantan pacarnya terdahulu yang dia yakini, pria itu tetap berhubungan dengannya selama pria itu bertunangan dengan tunangannya dahulu. 

Butuh lebih dari satu dekade, dia harus berdiri dan mulai menyukai pria lain. Entah mengapa, pilihannya jatuh kepada pria dari temannya. Perempuan itu tak pernah terpikir bahkan berkhayal dia akan jatuh hati kepada pria itu. Semua berjalan begitu saja, tak ada yang direncanakan. Begitu juga, ketika rasa sakit dari cemburu dan penolakan itu datang, perempuan itu tak memiliki rencana bagaimana cara bertahan dan menyembuhkan itu semua. Yang dia tahu, hatinya masih kalut walau otaknya penuh dengan rencana – rencana pertahanan diri dan bagaimana mereset kembali hatinya. Bahkan jika perlu, perempuan itu akan menjadi heartless, membangun benteng tinggi dan hidup di dalamnya seperti Rapunzel. 

Tidak ada yang terlalu sulit, tidak ada yang terlalu mudah, namun semua itu memungkinkan untuk terjadi. Perempuan itu pernah melakukannya sekali dan akan melakukannya untuk kali kedua

Advertisements